Buah Lokal vs Buah Impor

Hasil uji nutrisi buah lokal yang dilakukan Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Bangka menegaskan  pangan lokal ini menjanjikan dan mampu dihadirkan dalam percaturan perdagangan komoditas buah-buahan tingkat domestik dan nasional. Terlebih jika dilihat dalam perspektif kesehatanan yakni adanya jaminan mutu dan keamanan untuk dikonsumsi bagi kesehatan tubuh ketimbang mengkonsumsi buah impor. Sebagaimana release Bangka Post (edisi 3 juni 2013), hasil uji nutrisi untuk beberapa jenis buah-buahan memiliki kandungan yang cukup baik seperti jambu bandar yang memiliki kadar vitamin C yang tinggi yakni 278,40 mg per 100 gram, buah naga dengan kandungan zat besi sebesar 3,4 mg/kg serta pepaya yang mengandung 327 mg/kg.

Hasil uji kandungan gizi ini tentu sangat menggembirakan. Betapa tidak dengan meredupnya gairah petani dalam membudidayakan komoditas buah-buahan, hasil riset ini kembali membawa harapan baru bagi petani. Dampak positif lainnya adalah semakin tumbuhnya kepercayaan publik terhadap produk pangan lokal yang harus diakui sekian lama masyarakat kita sangat tergantung dengan buah impor. Jeruk, Semangka, Apel dan jenis buah-buahan lainnya yang seringkali kita temukan sebagai penghias pesta, selalu didominasi oleh buah impor. Bahkan untuk acara seremoni pemerintah, sangat mudah kita temukan buah impor dengan segala ukuran dan jenisnya.

Faktualnya buah lokal belum menjadi bagian yang utama dalam pola konsumsi masyarakat kita. Data kondisi konsumsi pangan masyarakat Bangka Belitung tahun 2010 menjelaskan persentase angka kecukupan gizi (AKG) untuk kelompok pangan buah/biji berminyak masih rendah yaitu 1,4 % dari angka ideal 3,0%. Hal ini mengindikasikan bahwa konsumsi masyarakat untuk jenis buah-buahan masih kurang. Dalam lingkup terkecil, khusus untuk buah lokal tentunya masih dibawah standar konsumsi ideal yang diharapkan.

Upaya untuk meningkatkan posisi tawar buah lokal ini nyatanya belum diimbangi dengan massifnya produksi dan tingkat produktivitasnya. Produksi buah lokal berdasarkan hasil analisis neraca bahan makanan (NBM) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung kurun waktu 2008-2010 untuk 12 jenis buah-buahan rata-rata 40.986 ton/tahun. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk sebanyak 1.138.129 jiwa, produksi keseluruhan kelompok buah-buahan tersebut hanya mampu menyediakan sebanyak 36 kg/tahun/kapita atau 0,10 kg/kapita/hari.  Kemudian ketersediaan buah-buahan dan sayuran berdasarkan Pola Pangan harapan (PPH) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebesar 29,4 dari skor ideal PPH sebesar 30. Hal ini menujukkan ketersediaan untuk kelompok bahan pangan buah-buahan masih kekurangan atau defisit dalam memenuhi konsumsi pangan masyarakat.

Namun demikian jenis bahan makanan buah-buahan ini mempunyai kandungan zat gizi meningkat dari tahun 2010 ke tahun 2011. Kandungan energi jenis bahan makanan buah-buahan sebesar 48,12 kkal/kapita/hari terjadi peningkatan sebesar 49,46% atau 71,92 kkal/kapita/hari dari tahun sebelumnya, kandungan proteinnya sebesar 0,63 gram/kapita/hari terjadi  peningkatan sebesar 50,50% atau 0,95 gram/kapita/hari dan lemak sebesar 0,28 gram/kapita/hari terjadi penurunan sebesar 57,50% atau 0,44 gram/kapita/hari dari tahun sebelumnya.

Upaya memasyarakatkan buah lokal juga dihadapkan dengan kondisi petani produsen yang belum sepenuhnya menguntungkan. Penguasaan lahan yang terbatas, jaminan harga dan saluran pasar hasil produksi masih menjadi catatan buram pelaku usaha tani ini. Penguasaan lahan dengan rata-rata kurang  dari 1 hektar menjadikan usaha ini tidak menarik secara ekonomis. Kemudian harga yang fluktuatif,  khususnya pada musim panen berakibat semakin tidak terjaminnya tingkat pendapatan petani produsen. Belum lagi kendala tata niaga yang tidak memberikan kepastian bagi petani produsen dalam sirkulasi pasar buah lokal. Dominasi buah impor dengan varian produknya mendominasi outlet-outlet kecil pedagang buah. Selain faktor harga,  kemasan dan kondisi fisik buah impor ini cukup menarik. 

Kembali memperhatikan buah lokal sesungguhnya menghargai kearifan lokal. Buah lokal yang keharusannya dilindungi dan dikembangkan secara massif. Selain merupakan identitas sosial-ekonomi, buah lokal ini juga merupakan cermin budaya masyarakat yang meletakkan nilai tradisonal agraris sebagai kondisi dasar dalam aktivitas kehidupan kesehariannya. Pelestarian buah lokal senada dengan pelestarian budaya behume (berladang padi ladang), termasuk menanam kelakak yang dilakukan oleh pendahulu, nenek moyang dulu. Warisan budaya yang ditanamkan selain untuk mengingatkan generasi baru juga untuk menjaga harmonisasi alam dengan kehidupan masyarakat setempat. 

Dalam konteks regulatif, pangan lokal (termasuk diantaranya buah lokal) sudah terwadahi dalam UU Pangan yang baru (No.18 tahun 2012). Pangan lokal mendapatkan tempat dalam upaya peningkatan ketersediaan pangan melalui pengakeragaman pangan yang berbasis potensi sumber daya lokal. Amanat undang-undang tersebut antara lain pengoptimalan pangan lokal, pengembangan teknologi dan sistem insentif bagi usaha pengolahan pangan lokal, serta pengembangan industri pangan yang berbasis pangan lokal.

(Pernah di muat di HU Bangka Post)

Penulis: 
Edi Setiawan, SP., M.Si
Sumber: 
Edi Setiawan, SP., M.Si
Tags: 
Buah Lokal vs Buah Impor

Artikel

02/01/2018 | serikat petani indonesia
02/01/2018 | DINAS PANGAN PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
02/01/2018 | DINAS PANGAN PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
02/01/2018 | DINAS PANGAN PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
02/01/2018 | DINAS PANGAN PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
25/10/2017 | Eddy Agusman
19 kali dilihat
02/01/2018 | kassubag keuangan
19 kali dilihat
17/12/2017 | Kurnia Alzulami, SE
19 kali dilihat
17/12/2017 | Kurnia Alzulami, SE
19 kali dilihat
09/10/2017 | Eddmond
17 kali dilihat