PENYUSUNAN PETA FSVA

PENYUSUNAN PETA KETAHANAN DAN KERENTANAN PANGAN TAHUN 2020

FSVA (FOOD SECURITY AND VULNERABILITY ATLAS)

Senin Tanggal 2 – 4 November 2020 Dinas Pangan Prov. Kep. Bangka Belitung melaksanakan BINTEK Penyusunanan Peta FSVA, dikarenakan dimasa Pandemi Covid 19 dan sesuai dengan intruksi pemerintah tidak boleh melakukan kumpul kumpul maka Pelaksanaan BINTEK dengan Menggunakan Sistem Pertemuan Online atau dengan Aplikasi ZOOM, Pelaksanaan BINTEK di Lakukan di Dinas Pangan di Kabupaten / Kota Masing Masing, sedangkan Narasumber beserta Moderator berada di Dinas Pangan Prov. Bangka Belitung.

FSVA merupakan peta tematik yang menggambarkan visualisasi geografis dari hasil analisa data indikator kerentanan terhadap kerawanan pangan yang berlatar belakang Dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan, diperlukan mekanisme untuk menilai prestasi, kekuatan dan kelemahan atas upaya yang telah dilakukan serta untuk memperbaiki upaya yang akan dilakukan berdasarkan UU No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan (Pasal 114) dan Peraturan Pemerintah No. 17 tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi (Pasal 75) mengamanatkan Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya berkewajiban membangun, menyusun, dan mengembangkan Sistem Informasi Pangan dan Gizi yang terintegrasi Salah satu mekanisme dimaksud dituangkan dalam wujud Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (Food Security and Vulnerability Atlas – FSVA)

PERAN STRATEGIS SEKTOR PERTANIAN PROVINSI KEP. BANGKA BELITUNG

  • Penyedia pangan 1.372.813 penduduk
  • Penyedia 32,6 % bahan baku industri kecil dan menengah 
  • Penyumbang 19 % PDRB
  • Konstribusi perekonomian daerah 18,65%
  • Menyerap 124.970 RT (tenaga kerja) 
  • Sumber utama pendapatan rumah tangga perdesaan

TANTANGAN MEWUJUDKAN PANGAN DAN GIZI

  1. Iklim (Dampak perubahan iklim)
  2. Skala usaha pertanian ( skala usaha tani kecil dan konversi lahan)
  3. Sarana dan prasarana pertanian (input pertanian)
  4. Teknologi (inovasi dan diseminasi teknologi)
  5. SDM Pertanian (regenerasi petani lambat)
  6. Food loss and waste (masih tinggi)

KEBIJAKAN STRATEGIS KETAHANANAN PANGAN DAN GIZI

Memperkuat Produksi Pangan Beragam

  1. Mengakselerasi pemanfaatan lahan marjinal, lahan tidur, wilayah perbatasan dan daerah rentan rawan pangan;
  2. Mengharuskan penerbitan perda lahan pertanian yang berkelanjutan;
  3. Melanjutkan pengembangan infrastruktur berkelanjutan;
  4. Mendorong lahirnya dan penerapan inovasi untuk meningkatkan  produktivitas, efisiensi produksi, penurunan kehilangan hasil dan produksi pangan yang beragam;
  5. Inovasi teknologi untuk antisipasi dan mitigasi perubahan iklim dan menjaga kontinuitas produksi sepanjang tahun;
  6. Melanjutkan perlindungan perairan dari pencurian ikan, intervensi asing, cemaran senyawa kimia dan sampah plastik
  7. Memberdayakan rumah tangga untuk penyediaan pangan yang beragam melalui pemanfaatan pekarangan dan media lainnya;
  8. Mengembangkan industri pangan olahan berbahan baku lokal;
  9. Mendorong pengembangan korporasi usaha tani hulu dan hilir;
  10. Mendorong tumbuhnya pendidikan vokasi dan entepreneurship untuk meningkatkan gerasi muda ke dunia pertanian

Keterjangkauan Fisik :

  1. Mengembangkan sistem logistik pangan yang efektif dan efisien;
  2. Memanfaatkan perdagangan internasional pangan yang mengutamakan produksi dalam negeri dan cadangan pangan;

Keterjangkauan Ekonomi :

  1. Menjaga stabilitas harga pangan pokok dan penting
  2. Menyediakan insentif untuk keberlanjutan UMKM;
  3. Memperluas akses sistem informasi pasar dan harga pangan;

Keterjangkauan Sosial :

  1. Mengembangkan sistem  jaring pengaman sosial pangan dengan pemanfaatan pangan yang beragam
  2. Menyediakan dan menyalurkan pangan untuk situasi darurat sesuai kondisi wilayah dan kelompok umur/fisiologis yang terdampak bencana
  3. Menumbuhkan kemandirian pangan untuk masyarakat terdampak bencana.

Memenuhi Kebutuhan Gizi :

  1. Mengedukasi pola konsumsi pangan  B2SA kepada setiap keluarga sejak usia dini;
  2. Meningkatkan konsumsi protein hewani untuk mengatasi masalah gizi mikro;
  3. Membangun sistem pengendalian food waste;
  4. Mengutamakan pemberian ASI ekslusif serta penyediaan dan pemanfaatan MP-ASI berbasis pangan lokal;
  5. Mendorong peningkatan air bersi dan sanitasi;
  6. Mendorong peningkatan jumlah tenaga dan layanan kesehatan.

Memperkuat Sistem Surveilans Pangan Dan Gizi :

  1. Memperkuat Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) dan Pemantauan Status Gizi (PSG) sebagai EWS kerawanan pangan;
  2. Memutakhirkan Peta Ketahanan dan Kerantan Pangan setiap tahun sebagai acuan penaganan kerentanan pangan dan gizi kronis;

Jaminan Mutu Dan Kemanan Pangan :

  1. Melanjutkan sosialisai dan edukasi keamanan dan mutu pangan

Dalam Melakukan Penyusunan Peta FSVA Melibatkan Instansi Antaralain:

  • Bapedda Prov. Bangka Belitung
  • Dinas Pertanian Prov. Bangka Belitung
  • Dinas Sosial Prov. Bangka Belitung
  • Dinas Kesehatan Prov. Bangka Belitung
  • Dinas Pendidikan Prov. Bangka Belitung
  • Dinas Kesehatan Prov. Bangka Belitung
  • Badan Pusat Statistik (BPS)

Dalam Melakukan Penyusunan Peta FSVA Melakukan Beberapa Tahap Antara Lain:

  1. Pembentukan Tim Pengarah dan Tim Pelaksana FSVA
  2. Pertemuan teknis untuk melakukan review ketersediaan data
  3. Pelatihan FSVA (metodologi dan analisis data indikator)
  4. Pengumpulan data
  5. Pertemuan untuk melakukan validasi data
  6. Analisis data, pemetaan dan penyusunan laporan FSVA
  7. Pencetakan laporan dan launching FSVA

Aspek Dan Indikator Data Dalam Penyusunan Peta FSVA :

  1. Ketersediaan Pangan
  • Rasio konsumsi normatif per kpta thd ketersediaan pangan
  1. Akses Pangan
  • Persentase penduduk hidup di bawah garis kemiskinan
  • Persentase rumah tangga dengan proporsi pengeluaran untuk pangan lebih dari 65% terhadap total pengeluaran
  • Persentase rumah tangga tanpa akses listrik
  1. Pemanfaatan Pangan
  • Rata-rata lama sekolah perempuan umur >15 tahun
  • Persentase rumah tangga tanpa akses ke air bersih
  • Rasio jumlah penduduk per tenaga kesehatan terhadap kepadatan penduduk
  • Prevalensi balita stunting
  • Angka kesakitan

METODE ANALISIS

  1. Aspek Ketersediaan Pangan
  • Rasio kosumsi normatif terhadap ketersediaan bersih per kapita/ hari
  1. Aspek Keterjangkauan Pangan
  • Persentase penduduk dibawah garis kemiskinan
  • Persentase rumah tangga dengan proporsi pengeluaran untuk pangan lebih dari 65% terhadap total pengeluaran
  • Persentase rumah tangga tanpa akses listrik
  1. Aspek Pemanfaatan Pangan
  • Persentase rumah tangga tanpa akses ke air bersih
  • Angka kesakitan
  • Rata-rata lama sekolah perempuan di atas 15 tahun
  • Rasio jumlah penduduk per tenaga kesehatan terhadap tingkat kepadatan penduduk
  • Prevalensi balita stunting

Tahap Melakukan Pemetaan

  1. Peta-peta yang dihasilkan diklasifikasikan menjadi 6 Priroritas.
  2. Prirotas 1 (sangat rentan) digambarkan oleh warna merah tua, sedangkan prioritas 6 (sangat tahan) digambarkan dengan warna hijau tua.
  3. Pemetaan dilakukan dengan menggunakan software QuantumGis.

 

 

 

Penulis: 
FAHRUL ROZI
Sumber: 
Dinas Pangan Prov. Babel

Artikel