POTRET BURAM PETANI GUREM

Ada persepktif yang mengemuka ketika petani produsen skala kecil (petani gurem) hadir dalam dinamika transaksi ekonomi. Persepektif bahwa petani selalu merugi, posisi tawarnya yang lemah dan mereka senantiasa dijadikan obyek penderita sering diwacanakan. Lebih ekstrem lagi kaum radikalis memberikan perspektif bahwa petani tidak pernah luput dari deraan kekalahan dan selalu menjadi obyek eksploitasi baik oleh kaum kapitalis termasuk elit penguasa.

Sadar atau tidak, kaum tani dengan areal penguasaan lahan dibawah 0,5 hektar ini tidak pernah memberikan respons opini secara massif atas perlakuan dan keadaan yang dialaminya apalagi memberikan aksi resistensi (perlawanan). Kalaupun ada, itu hadir secara spontanitas dan hanya menjadi porsi kelompok petani “elit”. Sebaliknya, mereka seolah-olah diajak untuk “bungkam” dan pasrah, menerima apa adanya. Banyak organisasi berlabel petani yang mengklaim sebagai pembawa amanat penderitaan kaum tani justru menjelma menjadi perpanjangan tangan kelompok konglomerat kapitalis. Yang lebih menyedihkan, organisasi ini dijadikan sebagai alat politik untuk kepentingan kekuasaan.

Eksistensi profesi tani sungguh kehilangan jati diri. Akar historisnya seakan tercabut. Tidak lagi menjadi entitas sosial dan inspirasi idologis. Jika ekonom klasik Adam Smith masih hidup, mungkin tidak akan luput pandangannya tentang fenomena siklus hidup manusia sebagai makhluk ekonomi dengan memberikan ruang teoritik bagi proses deagrarisasi ini. Paling tidak menambah perbendaharaan wacana dari 5 (lima) fase ekonomi yang dirumuskannya yakni berburu, beternak, bercocok tanam, perdagangan dan industri. Modernisasi dan industrialisasi pertanian yang didengungkan malah menjadikan kelompok petani gurem tersisih dan terpinggirkan. Alih-alih menjadi petani berdasi, untuk sekedar menyambung hidup saja terasa susah. Lahan mereka disulap menjadi bangunan mewah, pusat industri dengan gempita mega proyeknya. Semua itu menjadikan mayoritas penduduk republik ini kian jauh dari kultur dan filosofi hidupnya. Yang jauh dari budaya hidup yang mengedapankan kearifan alam untuk kemakmuran.

Secara kuantitatif, jumlah petani gurem bertambah kian tak terkendali. Jika pada tahun 1975 jumlah petani gurem sekitar 22,2 juta jiwa, pada tahun 1996 mengalami peningkatan menjadi 27,3 juta jiwa. Data terbaru tahun 2009 menunjukan jumlah petani gurem ini mencapai 39,4 juta jiwa.  Dalam dimensi tahun yang sama untuk kelompok buruh tani mengalami penurunan dari dari 11,7 juta jiwa pada tahun 1975 menjadi 7,7 juta pada tahun 2009.  Juga untuk kelompok pengusaha pertanian dengan penguasaan areal 0,5  sampai 1 hektar  terjadi penurunan jumlahnya dari 12 juta menjadi 4,2 juta jiwa pada tahun 2009 (BPS dan analisis SAE).

Dengan data tersebut setidaknya dapat ditafsirkan bahwa proses pembangunan pertanian yang berjalan selama ini belum banyak memberikan andil dalam mendorong penurunan angka petani gurem.  Sebaliknya dalam keterbatasan produktivitas petani gurem dan ragam masalah yang melilitnya, kondisi tersebut dijawab dengan skema impor beras dan bahan pangan lainnya yang selalu menjadi pilihan pemerintah dalam politik perberasan nasional. Sangat ironis memang. Pilihan modernisasi pertanian baik dalam bentuk maupun kulturnya tidak diimbangi dengan keberpihakan yang serius terhadap tingkat penghidupan petani gurem. Mereka tetap saja selalu dekat dengan kemiskinan dengan keterbatasan akses pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Data BPS (2002-2009) menunjukkan bahwa sektor pertanian di pedesaaan identik dengan kemiskinan. Sebaran kemiskinan di wilayah pedesaan ini didominasi oleh sektor pertanian yang mencapai sekitar 70%. Selebihnya  penduduk miskin di pendesaan ada di sektor jasa dan industri.

Dipotret dalam berbagai sisi manapun wajah petani gurem kita tetaplah buram. Baik dalam aspek livelihood (tingkat penghidupan) yang diukur dari tingkat pendapatan dan konsumsi pangannya maupun dari aspek Mindset yang berhubungan dengan kepercayaan diri, pendidikan dan aktifitas khususnya dalam berkelompok. Tidaklah mengherankan jika data-data dan fenomena kontekstual berkaitan dengan kemiskinan, ketertinggalan dan keterbelakangan selalu dilekatkan dengan kelompok petani gurem ini. Lambat laun status sebagai petani gurem akan turun peringkat menjadi buruh tani dan pada akhirnya menjadi rakyat jelata yang tanpa memiliki penguasaan sedikitpun atas aset dan sumber daya yang ada. Hal yang sangat mengkhawatirkan ditengah pusaran dinamika ekonomi globalisasi yang berkarakter individual dan pragmatis.

Nasib kelompok petani gurem kedepan menjadi tanda tanya besar. Tidak ada yang mampu meramal dan memprediksikannya. Teori keruntuhan semesta alam yang hakiki bisa jadi diawali dari keruntuhan sendi-sendi dasar filosofi kehidupan agraris. Era dimana alam sangat tidak bersahabat dengan manusia dan sebaliknya. Kita hanya bisa berdo’a dan berharap kaum tani kita terpanggil untuk bisa memperbaiki nasibnya. Tidak ada yang mampu merubahnya, meskipun melalui tangan-tangan kekuasaan ataupun alam sekalipun. Kalaupun mereka sadar dengan kekuatannya yang dimilikinya, dalam sekejap mereka bisa membuat kegaduhan yang tidak terkendali di muka bumi ini. Hanya dengan “memboikot” untuk menjual hasil panennya saja dalam rentang waktu tertentu, bisa dibayangkan bagaimana umat manusia menjadi panik, rusuh dan bahkan saling mematikan hanya untuk sesuap nasi.

 

(Pernah di muat di HU Bangka Post)

Penulis: 
Edi Setiawan, SP., M.Si
Sumber: 
Edi Setiawan, SP., M.Si
Tags: 
POTRET BURAM PETANI GUREM

Artikel

22/05/2018 | Novita Frahesti Ade Wijaya (Perencana Pertama)
02/01/2018 | serikat petani indonesia
02/01/2018 | DINAS PANGAN PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
02/01/2018 | DINAS PANGAN PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
02/01/2018 | DINAS PANGAN PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
02/01/2018 | kassubag keuangan
159 kali dilihat
02/01/2018 | BIDANG KONSUMSI
76 kali dilihat
17/12/2017 | Kurnia Alzulami, SE
70 kali dilihat
23/11/2017 | bkp.pertanian.go.id
40 kali dilihat