Tingkatkan Konsumsi Sumber Karbohidrat Non Beras, Dinas Pangan Gelar Diversifikasi Pangan Lokal Melalui Edukasi

Pangkalpinang – Pola konsumsi pangan masyarakat Bangka Belitung terhadap nasi dan tepung semakin tinggi. Hal ini terlihat dari impor beras dan tepung yang meningkat. Menurut Plt Kepala Dinas Pangan Provinsi, Juaidi, produksi beras di Bangka Belitung hanya mampu menyiapkan 27% dari kebutuhan, sedangkan sisanya, Bangka Belitung masih mengimpor dari luar. Juaidi juga mengatakan bahwa Bangka Belitung 25 tahun mendatang akan menghadapi ledakan penduduk yang luar biasa. Antisipasi kecukupan pangan menjadi faktor utama yang harus diantisipasi jika tidak ingin mengalami krisis pangan di masa mendatang.

“Saat ini pemerintah gencar menyerukan penganekaragaman pangan, pemanfaatan potensi pangan lokal, serta potensi lahan yang ada di daerah masing-masing,” ujar Juaidi.

“Jadi, kegiatan diversifikasi pangan lokal melalui edukasi ini adalah salah satu upaya pemerintah untuk mengantisipasi hal tersebut, terutama generasi milenial,” lanjutnya.

Hal di atas diungkap Juaidi dihadapan 60 orang siswa SMAN 3 Pangkalpinang pada acara Kampanye Diversifikasi Pangan Lokal yang digelar Dinas Pangan Provinsi, Rabu (7/10/2020). Dalam kesempatan ini Juaidi mengedukasi siswa SMAN 3 Pangkalpinang dengan mengenalkannya akan potensi pangan lokal Bangka Belitung yang kaya. Juaidi juga mengingatkan bahwa pangan tidak hanya beras, kenyang tidak harus nasi. Ada banyak pangan lokal asal Bangka Belitung yang dapat dijadikan pengganti karbohidrat yang mudah didapat, lebih sehat dan bergizi. Seperti talas pinangbu asli Bangka Belitung yang berbeda dari tempat lain dan sehat untuk dikonsumsi.

“Jadi kedepan adalah bagaimana kita bisa mengganti konsumsi nasi dengan mendiversifikasikan jenis karbohidrat lainnya dengan memanfaatkan potensi yang ada di sekitar,” ungkap Juaidi. “Saya harap adik-adik SMAN 3 sebagai generasi milenial dapat menjadi duta diversifikasi pangan dalam lingkup keluarga, lingkungan ataupun masyarakat,” ungkap Juaidi.

Disaat yang sama, Kepala Sekolah SMA 3, Kunlistiani menyebut bahwa kampanye ini dapat menjadi pengetahuan dan wawasan bagi anak-anak untuk bisa berinovasi dengan penganekaragaman makanan.

“Semoga kegiatan ini berdampak nyata bagi kami, bukan hanya sekedar angan-angan, tetapi akan segera kami lakukan karena pengetahuan ini penting untuk ditularkan kepada anak-anak didik kami,” tutupnya.

Juaidi menutup wawancara dengan menjelaskan bahwa SMAN 3 Pangkalpinang merupakan contoh awal dari kegiatan kampanye diversifikasi pangan lokal. Kedepan, kegiatan yang sama akan dilakukan di semua sekolah termasuk juga di Kabupaten, karena gerakan ini merupakan gerakan masal dan tidak dapat dilakukan sendiri. Harapannya, dengan menganekaragamkan pangan lokal asli Bangka Belitung, kita terlepas dari ketergantungan terhadap beras dan tepung tapioka yang keduanya belum banyak diproduksi di Bangka Belitung.

Sumber: 
Dinas Pangan
Penulis: 
Dini
Fotografer: 
Dini
Bidang Informasi: 
BKP Babel